Asmaul Husna: As-Shomad dan Al-Qadir-Al-Muqtadir

Posted on

Asmaul Husna artinya nama-nama yang baik dan indah yang menunjukkan keagungan Allah dengan segala sifatnya yang mulia.

Jumlah Asmaul Husna terdiri dari 99 nama. Orang yang pandai merenungkan makna-makna yang dikandungnya akan mendapatkan kebaikan dan keberkahan di dalam hidupnya.

Pada kesempatan ini kita akan membahas Asmaul Husna yaitu As-Shomad nama yang menunjukkan bahwa Allah SWT. maha sempurna dalam segala hal yang membuat semua makhluk hanya bergantung kepada-Nya.

Asmaul Husna Al-Qadir dan Al-Muqtadir yang menunjukkan bahwa Allah SWT Mahakuasa.

Al-Muqaddim-Al-Muakhir yang menunjukkan bahwa hanya Allah yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, serta Al-Baqi nama yang menunjukkan bahwa Allah Mahakekal. (akan dibahas pada kesempatan berikutnya).

Apa saja pengertian dari nama-nama Allah yang mulia Itu, serta pelajaran apa yang bisa diambil darinya. Yuk! kita simak penjelasan di bawah ini!

Asmaul Husna-As-Shomad-Al-Qadir-Al-Muqtadir

As-Shomad

Asmaul Husna pertama yang akan kita bahas adalah As-Shomad. Sebelum kita bahas, terlebih dahulu bacalah kisah singkat di bawah ini:

Sebut saja si Karyo dan si Harto, mereka adalah dua orang teman yang sedikit berbeda. Karyo sedikit manja, sedangkan Harto dikenal baik hati dan suka menolong. Suatu hari di waktu istirahat, Karyo yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah meminta tolong agar Ihsan membelikan makanan untuknya. Harto pun segera berangkat ke kantin.

Keesokan harinya, Karyo kembali meminta Ihsan untuk memberikan roti dan jus. Kali ini Karyo tidak sedang sibuk. Dia meminta tolong hanya karena Harto teman yang ringan tangan. Harto pergi ke kantin dengan perasaan kurang enak karena merasa disuruh-suruh.

Di hari yang lain, Karyo meminta Harto untuk membelikan teh botol. Karyo yang ketika itu sedang mengobrol di halaman kelas berkata “Tolong dong belikan teh botol dingin, haus banget nih!” Akan tetapi, kali ini Harto merasa jengkel dan berkata “kebiasaan, nyuruh mulu, jalan sendiri dong!” Harto pun pergi dan tidak mau meladeni permintaan Karyo.

Karakter manusia, umumnya tidak berbeda dengan sifat Ihsan, yakni akan merasa jengkel kalau terlalu sering diminta tolong.

Namun, coba kamu renungkan, berapa kali dalam sehari kita meminta kepada Allah? kita berdoa kepadanya ketika bangun tidur, setelah sholat, mau makan, memakai pakaian, berangkat ke sekolah, akan belajar sampai akan kembali tidur.

Pernahkah Allah marah karena terlalu sering diminta? Tidak! Sebaliknya, Allah akan murka kepada orang yang tidak pernah meminta kepadaNya.

Pengertian As-Shomad

As-Shomad artinya semua makhluk bergantung hanya kepada Allah karena tidak ada yang mampu mengayomi semua keperluan makhluk-makhluknya kecuali Dia yang memiliki semua sifat kesempurnaan.

Allah Maha kuasa, tidak ada yang menandingi kekuasaan-Nya. Setiap orang yang berkuasa di muka bumi, kekuasaan mereka hanyalah percikkan dari Mahakuasa Allah.

Allah Maha besar, tidak ada yang menandingi kebesaran Allah. Mungkin ada orang yang merasa besar (takabur) karena prestasi hidupnya. Akan tetapi, pasti dia tidak akan mampu membuat seekor nyamuk yang paling kecil sekalipun.

Allah Maha mengetahui. Kesempurnaan pengetahuan-Nya tidak bisa dituliskan oleh tinta sebanyak tujuh samudra . Sepintar apapun manusia, pengetahuannya hanya tetesan dari samudera ilmu Allah.

Karena hanya Allah yang memiliki semua sifat yang serba maha, semua makhluk hanya bergantung kepada-Nya. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dari-Nya sehingga bisa mencukupkan kebutuhan kebutuhan manusia.

Semua Nikmat Berasal dari Allah

Allah SWT adalah satu-satunya zat yang memenuhi seluruh kebutuhan makhluk. Apapun nikmat yang diperoleh manusia, hakekatnya berasal dari Allah. “Apa saja nikmat yang yang ada padamu, dari Allah-lah ia berasal” (An-Nahl [16]:53). Manusia hanya sebagai perantara saja.

Ketika sakit, seseorang dianjurkan untuk berobat ke dokter. Hal ini merupakan usaha untuk mendapatkan kesembuhan. Akan tetapi, dokter dan obat adalah perantara (wasilah) karena yang memberikan kesembuhan adalah Allah SWT.

Setiap orang diperintahkan untuk bekerja demi mendapatkan rezeki karena langit tidak menurunkan hujan emas dan bumi tidak menumbuhkan pohon uang.

Akan tetapi, apapun yang menjadi mata pencaharian seseorang, baik pegawai negeri sipil, swasta, wiraswasta, dan sebagainya, semua itu hanyalah perantara. Karena rezeki hanya datang dari Allah SWT.

Oleh karena itu, bekerjalah semaksimal mungkin dan bertawakallah kepada Allah SWT. sebisa mungkin. Semoga Allah SWT memberikan nikmat-nikmatnya kepada kita.

Memperbanyak Doa pada Allah SWT

Hanya Allah SWT yang menjadi tempat bergantung ketika menghadapi segala persoalan dalam hidup ini. Oleh karena itu, kita harus memperbanyak doa selain usaha.

Berdoa kepada Allah merupakan ibadah, karena doa merupakan pengakuan terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Jangan lupa sertakan nama As-Shomad dalam doa-doa kita. 

Hal itu akan membuat doa segera dikabulkan.  Dikabarkan,   sewaktu nabi  mendengar  seseorang mengawali doanya pembuka seperti ini:

Artinya: “Ya Allah,  aku  memohon kepada-Mu dengan kesaksianku Engkau  adalah Allah  yang tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Esa,  yang kepada-Mu-lah semua keperluan makhluk dipanjatkan, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak  sebanding dengan-Nya seorangpun”

Nabi bersabda:  “Demi zat yang  diriku ada dalam genggaman-Nya.  Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang paling Agung;  yang jika Dia dipanggil dengannyanya,  Dia akan menjawab; dan jika diminta dengannya, Dia akan memberi.” (HR. Tirmidzi, 5/3475, hadis hasan gorib).

AL-QADIR dan AL-MUQTADIR

Asmaul Husna berikutnya adalah Al-Qadir dan Al-Muqtadir. Sebelum dijelaskan mengenai Al-Qadir dan Al-Muqtadir, silahkan dibaca kisah di bawah ini.

Ketika pulling dari peperarangan, Nabi berteduh di bawah sebkha pohon. Beliau menggantungkan pandangannya di sebuah dahan dan beristirahat hingga tertidur.

Tidak terasa oleh Nabi, ada seorang musyrik yang mendekat dan mengambil pedangnya. Beliau baru terbangun ketika mendengar suara orang musyrik itu berteriak sambil mengancam Nabi Muhammad SAW. dengan pedangnya. “Engkau takut padaku? Nabi menjawab, “Tidak!”.

Dengan lancang orang musyrik itu menantang. “Siapa yang akan menghalangi kamu dariku? “Resulullah menjawab, “Allah!” Kalimat Allah yang kelar dari lisan Nabi yang mulia itu telah menggetarkan hati dan tangan orang musyrik sehingga pedang yang dipegang erat oleh tangannya jatuh ke atas tanah.

Kini giliran Nabi Muhammad SAW. yang mengambil pedang dan menghunuskannya sambil bertanya, “Sekarang siapa yang akan menghalangimu dari pedangku?” Orang musyrik itu dengan takut menjawab, “Wahai Muahammad, engkau adalah orang yang lemah lembut dan pemaaf ketika engkau berkuasa”.

Orang itu kemudian berjanji tidak akan ikut dalam parang apa pun melawan umat Islam. Rasulullah SAW. memaafkan orang itu, meskipun nabi mampu untuk membalas keburukkannya.

Pengertian Al-Qadir dan Al-Muqtadir

Al-Qodir dan Al-Muqtadir merupakan dua nama Allah SWT. yang artinya Mahakuasa. Kekuasaan Allah aangaat sempurna dan tijdvak ada satu makhluk pun yang dapat menyainginya. Ketika Allah menghendaki sesuatu, ia pasti akan terjadi dan tidak ada yang memo menghalanginya.

Ditangan-Nya Kendali semua kekuasaan yang ada di langit dan di bumi. Dengan kekayaan, kekuasaan, ilmu, dan keangungan-Nya, Allah tidak membutuhkan kepada seorang pun. Sementara itu segala makhluk yang ada di langit dan di bumi semuanya membutuhkan-Nya.

Dialah yang mika menghendaki sesuatu, cukup dengan mengatakan “Jadilah!”, Dengan kekuasaanya ia akan jadi. Akan tetapi, meskipun kekuasaan-Nya itu bersifat multlak, Allah SWT. mendahului Mahalembut dan Mahapengampun.

Kasih sayang Allah SWT. karena memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat dan beramal saleh. Apabila tetap durhaka, Allah SWT. pun akan menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Mengembalikan Semua Urusan kepada Allah SWT

Pengetahuan kita sangat tebatas, sedangkan ilmu Allah SWT. tak terbatas. Kesanggupan kita sangat terbatas, sedangkan kuasa Allah SWT. tak terbatas.

Kita terkadang merasa mampu untuk melakukan suatu pekerjaan, tetapi praktiknya ternyata tidak mampu. Oleh Karena itu, tidak sepantasnya takabur, kita  harus mengembalikan semua urusan kita kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW. mencontohkan, jika ada suatu keinginan, beliau melakukan sholat istikharah, yakni melaksanakan sholat dua rakaat. Kemudian beliau berdoa memohon kepada Allah agar memilihkan hal yang terbaik baginya dan dapat dilaksanakan dengan baik pula.

Baca Juga: