Bentuk Kalimat Dalam Tata Bahasa Indonesia

Posted on

Sahabat edmodo.co.id, pada artikel kali ini akan dibahas materi tentang Bentuk Kalimat dalam Tata Bahasa Indonesia. Adapun pokok bahasannya adalah: arti bentuk kalimat, kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

Bentuk Kalimat

Bentuk Kalimat

Bentuk kalimat artinya wujud kalimat itu sendiri. Kalimat itu dapat berwujud satu pola atau lebih, jika terbentuk atas satu pola kalimat disebut kalimat tunggal, jika terbentuk atas dua pola atau lebih disebut kalimat majemuk.

Dengan demikian bentuk kalimat itu adalah kalimat tunggal dan  kalimat majemuk.

Kalimat Tunggal

Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal. Kalimat Tunggal adalah kalimat yang terbentuk atas satu pola kalimat dan dapat diperluas tanpa membentuk pola baru.

Artinya dalam kalimat tunggal ini hanya terdiri atas satu subyek, satu predikat atau ditambah dengan satu unsur obyek dan keterangan.

Pola dasar yang telah dibahas di artikel sebelumnya; kalimat dalam tata bahasa Indonesia sebenarnya merupakan kalimat tunggal. Karena itu satu pola yang dimaksud disini adalah:

  1. S – P                           : Yusnita belajar
  2. S – P – O                    : Yerika melempar bola
  3. S – P – O – K             : Asnida menulis surat dengan baik
  4. S – P – K                    : Alina pergi ke semarang

Dalam kalimat tunggal ini akan kita jumpai adanya kalimat inti, kalimat luas, kalimat mayor dan kalimat minor.

Kalimat Inti

Kalimat inti adalah kaliamat yang hanya terdiri dari dua unsur inti dalam sebuah konstruksi predikatif. Artinya dalam sebuah kaliamt inti hanya terdapat inti unsur saubyek dan unsur intiunsur predikat.

Setiap unsur merupakan inti hanya terdiri dari satu  kata, atau subyek hanya satu kata dan predikat satu kata. Misalnya:

Dinda bermain
  S      P
Herlina berjalan-jalan
   S          P
Sapu tangan jatuh
     S        P

Kalimat Luas

Kalimat luas adalah kalimat yang memiliki unsur yang diperluas tanpa membentuk pola baru. Jika salah satu unsur memiliki lebih dari satu kata berarti unsur tersebut sudah mengalami perluasan. Unsur yang diperluas tersebut dapat unsur subyek, predikat, obyek, keterangan, ataupun seluruh unsurnya.

Unsur-unsur yang diperluas adalah:

  1. Subyek: Dokter muda itu pergi
  2. Predikat: Dokter hampir saja pergi
  3. Obyek: Arni menyanyikan sebuah lagu keroncong
  4. Keterangan: Yulinda membeli buku di toko Suryo
  5. Perluasan Seluruh Unsur: Dokter muda itu sedang sibuk memeriksa orang sakit di kampung plosok (ket. Dokter muda itu (S), sibuk memeriksa (P), orang sakit (O), di kampung plosok (K))

Kalimat Mayor

Kalimat mayor adalah kalimat yang memiliki pola kalimat yang sempurna. Artinya dalam kalimat tersebut terdapat unsur subyek, dan predikat, atau juga ditambah unsur obyek jika perlu. Sedangkan unsur keterangan tidak harus ada.

Kalimat inti dan kalimat luas diatas memiliki pola yang sempurna, karena setidak – tidaknya mempunyai subyek dan predikat. Kerena  itu contoh-contoh pada kalimat inti dan kalimat luas tersebut juga merupakan contoh kalimat mayor.

Perlu diketahui bahwa tidak setiap kalimat yang memiliki subyek dan predikat itu kalimat mayor, sebab walaupun ada subyek dan predikat jika masih memerlukan obyek berarti pola kalimatnya tidak sempurna.

Misalnya:

Team menemukan
S                 P

(Pola kalimatnya tidak sempurna, sebab masih membutuhkan obyek sebagai pelengkap)

Kalimat mayornya:

Team menemukan serangga.  
atau
Team survey hama telah menemukan serangga pemakan hama tanaman kelapa.

Kalimat Minor

Kalimat minor adalah kalimat yang pola kalimatnya tidak sempurna. Dalam kalimat minor ini hanya terdapat satu unsur pembentuk pola.

Telah kita ketahui bahwa kalimat itu sekurang-kurangnya telah memiliki subyek dan predikat. Akan tetapi dalam kalimat minor ini hanya kita jumpai unsur predikat saja, atau unsur keterangan saja.

Karena kalimat minor ini pola kalimatnya tidak sempurna dan hanya merupakan penggalan dari suatu kalimat, maka kalimat minor disebut juga kalimat lengkap atau kalimat penggalan, atau kalimat elips, atau eliptis.

Misalnya:

Pergi! (hanya unsur predikar)
Besok. (hanya unsur keterangan)

Contoh Penentuan Kalimat

1. Tukul Melawak

Kalimat tersebut merupakan kalimat tunggal, kalimat inti, kalimat mayor.

  • Kalimat tunggal, sebab terdiri atas satu pola kalimat.
  • Kalimat inti, sebab terdiri atas inti subyek dan inti predikat.
  • Kalimat mayor, sebab memiliki unsur pola kalimat sempurna.

2. Para siswa sedang menyayikan lagu kebangsaan Indonesia

Kalimat tersebut termasuk kalimat tunggal, kalimat mayor, kalimat luas.

  • Kalimat tunggal,  ( keterangan seperti contoh no 1 )
  • Kalimat mayor, ( keterangan seperti contoh no 1 ).
  • Kalimat luas, sebab memiliki unsur – unsur pola yang diperluas. Pada kalimat tersebut yang diperluas itu unsur subyek, predikat, obyek.

Kalimat Majemuk

Bentuk kalimat yang kedua adalah kalimat majemuk. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terbentuk atas dua pola kaliamt atau lebih. 

Artinya dalam kalimat tersebut dapat memiliki dua subyek atau dua predikat.

Misalnya ;

  1. Ia sampai di pintu surge, dan hatinya sangat ingin melihat daun surga.
  2. Ketika Siti Hawa keluar terusir dari surga, dipetiknya setangkai daun surga.
  3. Ketika gengaman tangannya dibuka, keempat helai daun itu terbang, karena angin bertiup sangat kencang.

Kalimat (1) terdiri atas dua pola kalimat yaitu:

  • Ia sampai di pintu surga.
  • Hatinya sangat ingin hendak melihat daun surga.

Kalimat  (2) terdiri dari dua pola kalimat yaitu:

  • Siti Hawa keluar terusir dari surga.
  • Dipetiknya setangkai daun surga

Kalimat (3) terdiri dari tiga pola kalimat yaitu :

  • Genggaman tangannya dibuka.
  • Keempat helai daun itu terbang.
  • Angin bertiup sangat kencang.

Karena kalimat-kalimat di atas memiliki lebih dari satu pola kalimat maka termasuk kalimat majemuk. Marilah kita pelajari kedudukan masing-masing pola kalimat itu .

Pada kalimat (1) “ia sampai di pintu surga“ (unsur pertama) berkedudukan setara atau sederajat dengan “hatinya sangat ingin hendak melihat daun surga” (unsur kedua).  

Berkedudukan sederajat sebab unsur yang satu tidak bertindak sebagai bagian yang menerangkan ataupun diterangkan bagi unsur yang lain. Masing-masing unsur memiliki subyek dan predikat.

Untuk pembahasan lebih lengkapnya mengenai kalimat majemuk, silahkan dibuka pada materi sebelumnya, yaitu Penjelasan Kalimat Majemuk : Ciri, Jenis dan Contoh

Demikianlah penjelasan materi Bahasa Indonesia mengenai bentuk kalimat. Semoga bermanfaat.