Kelompok Kata Dalam Tata Bahasa Indonesia

Posted on

Kelompok Kata Dalam Tata Bahasa Indonesia – Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai bentuk kata dalam bahasa Indonesia.

Setelah kita membahas mengenai bentuk kata, pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai kelompok kata yang terdiri dari pengertian kelompok kata, hukum DM, dan kontruksi.

Pengertian Kelompok Kata

Kelompok kata adalah himpunan kata yang membentuk kesatuan bahasa dan berfungsi sebagai unsur dari kesatuan yang lebih besar. Kesatuan yang lebih besar dari kelompok kata adalah kalimat.

Orang bijaksana selalu penuh maaf.

Penjelasan dari contoh kelompok kata di atas adalah: Kelompok katanya adalah orang bijaksana, selalu penuh maaf.

Kelompok kata sebagai unsur kalimat atau bagian kalimat disebut frase.

Hukum DM

Setiap kelompok kata selalu memiliki bagian inti dan bagian yang memperluas. Bagian inti itu merupakan bagian yang diterangkan (D), dan bagain yang memperlluas merupakan bagian yang menerangkan (M).

Contoh hukum DM: dokter muda
Unsur intinya dokter, maka dokter unsur D
Unsur yang menerangkan muda, maka muda unsur M
Sehingga hubungan frase muda adalah DM.

Pada umumnya pola kelompok kata pada bahasa Indonesia menggunakan aturan DM (hukum DM) artinya unsur diterangkan mendahului unsur menerangkan.

Kelompok kata bahasa Indonesia yang menggunakan MD (Menerangkan mendahului diterangkan) jika:

Contoh diagram hubungan frase dalam kalimat:

Konstruksi

Konstruksi adalah susunan kata yang mewujudkan kesatuan bahasa. Ada dua macam konstruksi yaitu konstruksi morfologis dan konstruksi sintaksis.

Konstruksi Morfologis

Kontruksi Morfologis adalah konstruksi yang menghasilkan suatu bentuk kata.
Misalnya:
(ke-an) + pandai = kepandaian (kata berimbuhan)
orang + tua = orang tua (kata majemuk)

Konstruksi Sintaksis

Kontruksi sintaksis adalah konstruksi yang dibentuk atas susunan kata yang menghasilkan frase atau kalimat.

Konstruksi Sintaksis yang Menghasilkan Frase

Frase merupakan unsur langsung dari unsur yang lebih besar (kalimat). Jadi frase merupakan unsur langsung dari kalimat.

Konstruksi yang menghasilkan frase ini ada dua macam yaitu konstruksi endosentris dan konstruksi eksosentris.

a. Konstruksi endosentris, adalah konstruksi yang salah satu atau semua unsurnya memiliki lingkungan distribusi atau fungsi yang sama.

  1. Sepeda baru
    Unsur langsungnya sepeda dan baru.
    Sepeda memiliki lingkungan distribusi atau fungsi sama dengan kata sepeda baru. Berarti salah satu unsurnyamemiliki fungsi yang sama dengan konstruksi itu.

Sepeda dengan sepeda baru dalam kalimat tersebut sama fungsinya yaitu sebagai obyek (O).
Karena itu termasuk konstruksi endosentris.

Baru pada sepeda baru merupakan unsur yang menerangkan atau sebagai atribut bagi kata sepeda. Karena itu sepeda baru berkonstruksi endosentris atributif.

2. Gagah perkasa
Unsur langsungnya gagah perkasa .
Gagah dan perkasa memiliki lingkungan distribusi yang sama dengan gagah perkasa. Berarti seluruh unsurnya memiliki lingkungan distribusi atau fungsi yang sama dengan kostruksi itu.

Gagah dan perkasa masing-masing tidak ada yang menerangkan / diterangkan. Keduanya merupakan inti yang berkedudukan sama. Karena itu gagah perkasa berkonstruksi endosentris koordinatif.

3. Heru adikku
Kedua unsurnya memiliki fungsi yang sama, dan keduanya merupakan unsur inti semua. Pada konstruksi heru adikku ini unsur-unsurnya dapat dipertukarkan tempatnya menjadi adikku Heru. Masing-masing dapat bergantian menjadi unsur inti dan unsur penjelas. Heru adikku = heru (inti), heru (penjelas).
Adikku heru = adikku (inti), heru (penjelas).

Oleh sebab itu heru adikku berkonstruksi endosentris apositif.

b. Konstruksi Eksosentris, Kontruksi ekosintris adalah konstrusi yang masing-masing unsurnya memiliki lingkungan distribusi atau fungsi yang tidak sama.

Misalnya:
a. Membeli sepeda
Unsur langsungnya membeli dan sepeda. Kedua unsur tersebut fungsinya tidak sama.

Membeli ataupun sepeda lingkunganya juga tidak sama dengan membeli sepeda.
Paman membeli sepeda.
Paman membeli. (tidak berarti )

Karena unsur–unsurnya tidak sama fungsi / lingkungan distribusinya dengan konstruksi itu maka disebut kostruksi eksosentris. Dan karena salah satu unsur membeli sepeda itu berfungsi obyek (=sepeda ), maka membeli sepeda termasuk konstruksi eksosentris obyektif.

b. Di toko
Di ataupun toko tidak sama fungsinya denga di toko, mak berkonstruksi eksosentris.
Paman membeli sepeda di toko.
Paman membeli sepeda di (tidak berarti)
Karena salah satu unsurnya berjenis kata depan (di = kata depan), maka di toko berkonstruksi eksosentris preposisional atau konstruksi preposisional.

c. Karena rajin
Karena ataupun rajin fungsinya tidak sama dengan karena rajin. Maka berkonstruksi eksosentris.

Mukti lulus ujian karena rajin.
Mukti lulus ujian Karena (tidak berarti).

Salah satunya berjenis kata sambung (karena = kata sambung), maka karena rajin berkonstruksi eksosentris konjungtif.

Konstruksi yang menghasilkan kalimat

Kalimat terbentuk atas gabungan frase dengan frase . frase yang digabungkan selalu tidak mempunyai lingkungan distribusi atau fungsi yang tidak sama.

Frase ibu berfungsi subyek, dan frase sedang menjahit berfungsi predikat. Karena fungsinya tidak sama maka termasuk konstruksi eksosentris. Dan karena salah satu unsur nya sebagai predikat (sedang menjahit = predikat), maka “ibu sedang menjahit“ berkonstruksi eksosentris predikatif atau konstruksi predikatif.

Dengan demikian konstruksi yang membentuk kalimat itu adalah konstruksi eksosentris predikatif atau konstruksi predikatif.

Demikianlah penjelasan tentang Kelompok Kata Dalam Tata Bahasa Indonesia. Semoga artikel ini memberikan wawasan dan manfaat bagi kita semua dalam mempelajari tata bahasa Indonesia.

Artikel Lainnya :