Sejarah Pahlawan Nasional: Sisingamangaraja XII

Posted on

Sejarah Pahlawan Nasional: Sisingamangaraja XII – Halo… sahabat-sahabat edmodo.co.id, artikel kali ini adalah Sejarah Pahlawan Nasional: Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII adalah salah satu pahlawan dalam sejarah pahlawan nasional kebanggaan masyarakat sumtera utara khususnya dan rakyat Indonesia umumnya.

Asal Usul Sisingamangaraja XII

Asal daerah Raja Sisingamangaraja XII lahir di negeri Bakara, Sumatera Utara pada tahun 1848. Batara terletak di tepian Danau Toba. Rakyat Bakara hidup dari bertani dan berternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang.

Sisingamangaraja mempunyai nama kecil, yaitu Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu. Layaknya gelar raja dan pemimpin pada umumnya selalu diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Pada saat Patuan Bosar diangkat sebagai Raja Sisingamangaraja XII pada tahun 1871, ia berusia sangat muda yaitu 22 tahun.

Sebagaimana dengan Raja Sisingamangaraja I sampai XI, Sisingamangaraja XII juga merupakan seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan yang memang masih lazim pada masa itu.

Jika ia pergi ke suatu desa (huta), Sisingamangaraja XII selalu meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang hendak diperjualbelikan dan diperbudak.

Sisingamangaraja XII adalah pejuang sejati anti-kolonial dan perbudakan. Pejuang yang tidak ingin berkompromi dengan penjajahnya, beliau pernah ditawari menjadi Sultan Batak. Tetapi beliau lebih suka mati daripada tunduk pada penjajah.

Dia adalah seorang pejuang yang tidak ingin mengkhianati bangsanya untuk kekuasaan, dan tidak terbatas pada orang-orang Tapanuli (Batak), tetapi juga orang-orang dari “mata hitam” dan penduduk asli karena penindasan “mata hitam “(penduduk asli) dan pemukim.

Semua orang bermata hitam dianggap saudara dan harus dilindungi dari penindasan kolonial. Dia merasa dekat dengan orang dari manpun asalnya, ini terbukti dengan dia mengangkat komandannya dari Aceh.

Kerajaan Raja Sisingamangaraja

Perhatikan bahwa raja Sisingamangaraja XII, yang diwarisi dari leluhurnya, bukanlah kerajaan dalam pengertian umum. Secara politis, ia adalah raja negaranya sendiri, Bakarat dan dikenal sebagai “Raja Orang Batak”.

Raja Sisimangaraja XII juga memegang jabatan Imam agama Parmalim, kepercayaan orang Batak pada zamannya. Gelar Sisingamangaraja adalah gelar kelompok turun-temurun yang memiliki keistimewaan wibawa (sahara), pendeta raja (Priester Konig) dari cabang Marga Sinambela yang tinggal di Bakara.

Karena keistimewaan, keunggulan, kearifan yang langsung turun-temurun mereka dihormati sebagian besar orang Batak, khususnya dari belahan marga besar Sumba. Pahlawan Nasional Indonesia ini yang disebut juga Ompu Pulo Batu adalah Sisingamangaraja yang ke XII.

Perjuangan Raja Sisingamangaraja XII Melawan Belanda

Perlawanan Sisingamangaraja melawan Belanda dapat dipadamkannya “Perang Paderi” melapangkan jalan bagi pemerintah kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus, dan kawasan Sibolga.

Oleh karena itu sejak tahun 1837, tanah Batak terpecah menjadi dua bagian yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernur yang disebut dalam “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan penduduk Sibolga di bawah kendali gubernur Belanda di Padang.

Sedangkan bagian lain dari tanah Batak, yaitu Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, dan daerah-daerah Silindung belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan masih tetap diakui Belanda sebagai tanah Batak yang merdeka, atau “De Onafhankelijke Bataklandan”.

Hingga tahun 1886, hampir seluruh Sumatra dikuasai oleh Belanda, kecuali tanah Aceh dan Batak, yang berada dalam negara yang merdeka dan damai di bawah kepemimpinan Raja Shisimagaraja XII muda.

Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai pantai Aceh. Saat itu, tanah Batak tempat raja Sisimangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda.

Tetapi ketika 3 tahun kemudian yaitu pada tahun 1876 Belanda mengumpulkan “Regerings Besluit tahun 1876”, Wilayah Silindung / Tarutung dan sekitarnya ditempatkan di bawah kekuasaan Belanda dan harus diajukan kepada penduduk Belanda di Sibolga, dan Raja Sisimangaraja XII segera memahami tanda-tanda strategi Belanda.

Rapat Raksasa

Kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu mereka akan menyusul menguasai daerah Humbang, Toba, Samosir, Dairi, dan daerah lain. Raja Sisimangaraja XII cepat bertindak ia mengambil langkah cepat. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dikumpulkan dalam suatu Rapat raksasa di pasar Balige bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu, diambil tiga keputusan sebagai berikut:

  1. Menyatakan perang terhadap Belanda
  2. Masalah agama tidak diganggu
  3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda
Baca Juga :  Rumah Adat Aceh

Raja Sisimangaraja XII dengan semangat tinggi mengumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Raja Sisimangaraja XII dapat menjalin persatuan dan semangat persatuan dengan suku-suku lainnya.

Tahun 1877 mulailah perang Batak yang terkenal itu. Perang ini berlangsung 30 tahun lamanya dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa. Belanda mengerahkan pasukannya dari Singkil Aceh menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisimangaraja XII.

Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah ke arah ke markas besar Raja Sisingamangaraja XII di Tangga Batu dan Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihambat. Belanda pun mengubah taktik pada babak berikutnya mereka menyerbu untuk merebut tempat logistik Raja Sisimangaraja XII 12 di daerah Toba, untuk selanjutnya menghadang daerah Bakarah.

Pada tahun 1882, hampir semua wilayah Balige dikuasai oleh Belanda, tetapi Laguboti masih dipertahankan oleh komandan Raja Shisimagaraja XII, termasuk komandan pertahanan Ompu, Bosi Hutapea.

Perang di Toba

Sekarang giliran Toba dikuasai oleh Belanda, tetapi Belanda masih merasa bahwa dominasi tanah Batak lambat. Untuk mempercepat rencana ini, Belanda menambahkan pasukan besar yang didatangkan dari Batavia (Jakarta), yang mendarat di pantai Sibolga. Selain itu, pasukan dimobilisasi dari Padang Sidempuan.

Raja Sisimangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Pasukan Raja Sisimangaraja XII juga dikerahkan berupa kekuatan laut dari Danau Toba yang menyatakan pasukan sebanyak 800 orang pertempuran besar pun terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda memanfaatkan sepenuhnya kekuatan mereka, dan Raja Sisingamangaraja XII dan para panglimanya bertempur dengan sengit. Tahun itu, di hampir semua negeri Batak, Belanda harus selamat dari serangan pasukan yang setia terhadap Raja Sisingamangaraj XII.

Namun, pada 12 Agustus 1883, di Bakarat, istana dan markas Raja Shisimagaraja XII ditempati oleh pasukan Belanda. Raja Sisingamangaraja XII mundur ke Dairi bersama keluarga dan pasukannya yang setia yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

Kemudian, Belanda sibuk mencari Sisimangaraja XII beserta pengikutnya. Regu pencari jejak dari Afrika juga didatangkan untuk mencari persembunyian Raja Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri atas orang-orang Sinegal. Oleh pasukan Raja Sisimangaraja XII, barisan musuh ini dijuluki Si Gurbak Ulu Na Nabirong. Akan tetapi para pasukan Raja Sisingamangaraja XII terus bertarung.

Di saat Panglima Sarbut Tampubolon menyerang barak Belanda di Butar, sedangkan Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Kemudian, Raja Sisimangaraja XII menyerang ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangaronsang, Huta Paung, Parsingguran, dan Pollung.

Panglima Raja Sisimangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Parmalim yang menjadi penasehat khusus Raja Sisimangaraja XII, guru somaling Pardede juga ditawan Belanda peristiwa ini terjadi pada tahun 1889.

Pada awal abad ke-20 Belanda mulai berhasil menguasai Aceh sehingga pada tahun 1890 pasukan khusus Marsose yang tadinya ditempatkan di Aceh, dikerahkan untuk menyerang Raja Sisingamangaraja XII di daerah Parlilitan. Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Raja Sisingamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah ia dan keluarga serta pasukan menyingkir ke Dairi.

Selama kurang lebih 22 tahun, Raja Singamangaraja XII berperang dengan cara berpindah-pindah di daerah Parlilitan. Di setiap persinggahannya, Raja Singamangaraja XII selalu ingin meningkatkan kesahteraan masyarakat dengan cara melakukan pembinaan pertanian dan adat istiadat, sehingga menimbulkan kesetiaan dan dukungan rakyat untuk berjuang.

Walaupun banyak di antara penduduk yang mendapat siksaan dan pukulan dengan rotan dan bahkan sampai terbunuh karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda termasuk untuk menunjukkan tempat masukan dan Raja Sisingamangaraja XII berada.

Pasukan Raja Sisingamangaraja XII di Dairi adalah kombinasi dari Batak dan Aceh. Pasukan ini dipimpin oleh putranya Patuan Nagari. Kepala Komandan suku Batak Toba termasuk Manase Simorankir dari Silindung, Roor Purba dari Bakara, Aman Tobot Sinaga dari Uruk Sankaran, dan Ama Ransap Tinambunan dari Peabalane.

Dari suku Aceh antara lain Teuku Sagala, Teuku Nyak Bantal, Teuku Nyak Ben, Teuku Mat Sabang, Teuku Nyak Umar, Teuku Nyak Imun, Teuku Idris. Sedangkan dari rakyat Parlilitan antara lain Pulambak Berutu, Tepi Meha, Cangkan Meha, Pak Botik Meha, Pak Nungkun Tinambunan, Namgkih Tinanbunan, Pak Leto Mungkur Pak Kuso Sihotang, Tarluga Sihombing, dan Keras Tamba.

Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya diplomasi dengan menawarkan Raja Sisingamangaraja XII untuk menjadi Sultan Batak dengan berbagai kewenangan dan hak istimewa, hal ini bias dilakukan Belanda di daerah lain. Namun, Raja Sisingamangaraja XII tidak menerima tawaran dari Belanda sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin gencar dilakukan Belanda.

Baca Juga :  Rumah Adat Kalimantan Timur

Setelah melalui pengepungan yang ketat selam tiga tahun akhirnya markas Sisingamangaraja XII diketahui oleh Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, pristiwa tragis pun terjadi. Pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali meminta Sisingamangaraja XII menyerah dan akan dinobatkan menjadi Sultan Batak.

Namun, pahlawan yang merasa tidak mau tunduk pada penjajahan ini lebih lebih memilih lebih mati daripada menyerah. Tahun 1907 pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade setan mengepung Raja Sisingamangaraja XII. Pertahanan Raja Sisingamangaraja XII diserang dari tiga jurusan.

Raja Sisingamangaraja XII Wafat

Tetapi Raja Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah, para wanita serta anak-anak diungsikan secara berkelompok, namun kemudian mereka tertangkap oleh Belanda. Tahun 17 Juni 1907, di pinggir bukit Aek Sibulbulon di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon di perbatasan kabupaten Tapanuli Utara dan kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Raja Sisingamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel.

Kesaktian Raja Sisingamangaraja XII adalah kebal terhadap peluru. Namun Raja Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi sertanya putrinya Lopian. Raja Sisingamangaraja XII yang kebal peluru tewas terkena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian yang gugur dipangkuannya. Dala peristiwa ini, juga turut gugur banyak pengikut dan beberapa panglinya, termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga berprinsip pantang menyerah.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu memang telah mengakibatkan korban yang begitu banyak bagi rakyat, termasuk keluarga Raja Sisingamangaraja XII sendiri. Walaupun Raja Sisingamangaraja XII telah wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang di tanah Batak berakhir, kemudian terbukti bahwa ada banyak perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang Tapanuli, terutama para pengikut Raja Sisingamangaraja XII.

Jenazah Raja Sisingamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dibawa dan dikuburkan Belanda di tangsi Tarutung. Pada tahun 1953, pemerintah dan masyarakat serta keluarga membangun Makam Pahlawan Nasional Soposurung Balige untuk memakamkan kembali Raja Sisingamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi.

Raja Sisingamangaraja XII digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional tanggal Keputusan No. 590 oleh Pemerintah Indonesia 19 November 1961. Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih dan ulet. Sisingamangaraja XII sendiri telah tercata dalam buku sejarah pahlawan nasional.

Raja Sisingamangaraja XII selama tiga dekade telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaan kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara. Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Raja Sisingamangaraja XII” yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia terutama generasi muda.

Raja Sisingamangaraja XII benar-benar Patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi. Hal ini menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan di hati rakyat. Masyarakat Sumatera Utara khususnya dan rakyat Indonesia umumnya perlu mengenang kembali semangat kejuangan yang ditunjukkan pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII dalam mengusir penjajah Belanda dari tanah Batak.

Semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh Raja Sisingamangaraja XII perlu diwarisi generasi saat ini untuk membangun negeri ini. Raja Sisingamangaraja XII adalah Pahlawan Nasional kebanggaan masyarakat Sumut khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Ia memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban.

Sisingamangaraja XII mampu menjalin hubungan dengan pihak lain yang berbeda suku dan agama di Aceh, meskipun ia bukan beragama Islam. Namun ia juga bisa bekerjasama dengan masyarakat Kristen dalam melawan penjajah Belanda. Sikap mau bekerja sama ini patut kita teladani.

Saat ini, Raja Sisingamangaraja XII diabadikan di uang pecahan seribu rupiah, nama universitas dan nama jalan. Selain itu dibangun pula museum Sisingamangaraja XII. Museum dibangun untuk menarik perhatian wisatawan luar negeri maupun dalam negeri, karena para wisatawan setelah mengunjungi Danau Toba yang tidak jauh dari lokasi museum akan singgah ke tempat penyimpanan sejarah itu. Pembangunan museum Singamangaraja XII ini dibangun di lokasi bekas istana Sisingamangaraja XII dengan luas lahan 3 hingga 5 hektar.

Demikianlah penjelasan lengkap Sejarah Pahlawan Nasional tentang Sisingamangaraja XII. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca semuanya dan lebih memahami tentang sejarah pahlawan nasional lainnya.

Baca Juga :