Asmaul Husna: Al-Muqaddim-Al-Muakhir dan Al-Baqi

Posted on

Al-Muqqadim-Al-Muakhir dan Al-Baqi – Postingan sebelumnya telah dibahas mengenai Asmaul Husna: As-Shomad dan Al-Qadir-Al-Muqtadir. Pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan materi pelajaran mengenai Asmaul Husna: Al-Muqqadim-Al-Muakhir dan Al-Baqi.

Yuk! kita simak penjelasan singkat di bawar ini.

Al-Muqaddim-Al-Muakhir-Al-Baqi

Al-Muqaddim-Al-Muakhir

Rasulullah SAW selalu berusaha untuk menjadi orang yang terbaik di sisi Allah SWT sehingga beliau selalu beribadah dengan penuh kesungguhan.

Misalnya, Rasulullah SAW melaksanakan sholat tahajud samapai betisnya bengkak karena berdiri lama. Menurut para sahabat, sedekah beliau juga lebih deras dibading angin yang tidak henti-hentinya bertiup.

Karena kesungguhan beliau dalam beribadah, Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW makhluk paling mulia dari seluruh umat manusia.

Karena kemuliaanya itu, Nabi Muhammad SAW disebutkan setelah penyebutan nama Allah SWT. Misalnya dalam azan, ikamah, tasyahud di dalam sholat, khutbah jum’at, khubah idul fitri dan idul adha. Umat Islam diseluruh penjuru dunia melakukan hal itu.

Seandainya umat manusia sejak nabi Adam as hingga akhir zaman semuanya berkumpul dengan berbaris di suatu lapangan yang luas, orang-orang yang ada di baris pertama hingga baris paling akhir, semuanya itu ditentukan oleh amal-amal ibadahnya.

Allah-lah yang menempatkan setiap orang di dalam barisan-barisan itu menurut ketakwaannya, semakin depan semakin mulia, dan semakin belakang semakin hina.

Pengertian Al-Muqaddim-Al-Muakhir

Al-Muqaddim artinya Allah Maha Mendahulukan, yaitu mendahulukan orang dikehendaki-Nya karena kesalehan, ketakwaan, serta kedekatannya (takarub) dengan Allah SWT dibandingkan dengan orang-orang yang dikehendaki-Nya pula.

Al-Muakhir artinya Allah Maha Mengakhirkan, yaitu mengakhirkan derajat orang yang dikehendaki-Nya Karena kurang saleh, kurang bertakwa, dan kurang dekat dengan-Nya.

Sebesar usaha manusia untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, sebesar itu pula Allah SWT akan memberikan taufik dan hidayah untuk bertakwa, serta bertobat dan beristigfar.

Sebaliknya, jika tidak berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, Dia tidak akan memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga orang itu akan tetap jauh dari Allah SWT.

Al-Muqaddim dan Al-Muakhir juga memiliki arti bahwa Allah SWT mengedepankan pahala, kasih sayang, dan ampunan kepada hamba-Nya. Allah SWT juga mengakhirkan atau menunda siksaan bagi orang yang dikehendaki-Nya.

Allah SWT menggerakan balasan sebagai pahala kebaikan, sementara Dia menunda sebagian hukuman atas dosa dan kemaksiatan. Penundaan itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya untuk memberikan kesempatan agar yang berbuat dosa itu kembali kapada-Nya.

Manjadi Manusia yang Unggul

Kita memahami dan meyakini bahwa Allah SWT sebagai Al-Muqaddim dan Al-Muakhir harus membuat kita semakin sungguh-sungguh untuk rajin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta rajin belajar dan menuntut ilmu.

Orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang paling rajin menjalankan perintah Allah SWT dan rasul-Nya serta paling kuat menahan diri dari perbuatan yang tercela.

Keharusan untuk semakin rajin belajar kerena Allah SWT akan meninggikan kedudukan orang yang beriman dan berilmu. Firman Allah SWT:

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujadilah [58]:11) 

Al-Baqi

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyembelih seekor kambing, kemudian menyedekahkan dagingnya kepada orang-orang miskin.

Rasulullah bertanya kepada Aisyah, “Apa yang tersisa?” Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa, kecuali bahunya saja.” Rasulullah bersabda, “Berarti semua daging kambing itu menjadi amal yang kekal, kecuali bahunya”.

Pernahkah kamu bertanya kepada ayahmu, siapa bapak dari kakek dan neneknya? mungkin ayamu tida tahu siapa namanya. Akan tetapi, orang yang kamu tanyakan itu pasti pernah hidup di dunia ini.

Mengapa ayahmu tidak lagi mengenalnya? Mungkin karena sudah lama meninggal. Akan tetapi, setiap orang datang akan pergi dan setiap yang hidup akan mati. Tidak ada orang yang kekal di dalam hidup ini. Zat yang kakal hanyalah Allah SWT, Tuhan yang menciptakan segala yang ada.

Pengertian Al-Baqi

Al-Baqi artinya Allah Maha Kekal. Hal itu tentu berbeda dengan segala sesuatu yang ada di dunia karena semua makhluk bersifat fana dan ada akhirnya.

Hanya Allah yang Maha Kekal, sedangkan seluruh makhluk termasuk manusia akan binasa. Maha suci Allah yang kekal, abadi, wajib ada, dan mustahil tidak ada. Firman Allah SWT:

Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi Kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman [55]: 26-27)

Meskipun begitu, ada satu hal milik manusia yang akan tetap bermanfaat baginya sampai di akhirat kelak, yaitu amal saleh. Amal kebaikan yang dilakukan di dunda akan menjadi pahala dan kenikmatan yang kekal di akhirat.

Memperbanyak Titipan di Sisi Allah

Setiap amal saleh yang diperbuat oleh manusia akan tetap abadi di sisi Allah SWT dan bermanfaat kelak di akhirat. Oleh sebeb itu, kita tidak boleh terpedaya dengan kenikmatan sesaat di dunia.

Kita harus lebih banyak memikirkan apa yang bisa dititipkan di sisi Allah sehingga Allah SWT dan rasul-Nya memerintahkan agar setiap muslim selalu beramal saleh. Firman Allah SWT:

Artinya: “Dirilanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik. Kebaikan apa pun yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu akan memperoleh balasannya di sisi Allah, sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Muzaammil [73]: 20) 

Demikianlah penjelasan singkat mengenai Asmaul Husna: Al-Muqqadim-Al-Muakhir dan Al-Baqi. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: